Lanjutkan Pembangunan dan Perdamaian, Stop Saling Serang Pasca Pilpres 2019

News217 Dilihat

Bandung – Pondok Pesantren Nurul Ansor menggelar acara Tarhib Ramadhan dan diskusi publik pasca Pemilu 2019 bertema “Pasca Pilpres, Dukung Kelanjutan Pembangunan Tanpa Perpecahan” Jumat (26/4/2019).

Diskusi tersebut menghadirkan Prof. Dr. H. Ali Anwar, M.Ag (akademisi) dan DR. KH Asep Jamaluddin (Ketua PCNU Kab. Bandung).

Ali Anwar, menuturkan Pemilu sampai saat ini masih dalam proses penghitungan C1, namun perilaku antar kedua pendukung di media sosial masih terus saling singgung. Dirinya menegaskan tidak ada satupun agama yang mengajarkan hal tersebut. Jika tidak segera diakhiri saling serang di media sosial, maka akan berimbas pada kehidupan sosial.

“Terlepas dari kontestasi Pilpres 2019, pembangunan nasional harus terus berlanjut, tidak peduli siapapun pemimpinnya, karena hal tersebut tidak terlepas dari eksistensi Indonesia di kancah dunia. Tujuan itu perlu didukung oleh seluruh pihak, termasuk partai politik sebagai akomodasi para pemimpin dalam mengemban amanat masyarakat diluar unsur politisnya,” jelas Ali Anwar.

Pihaknya memberikan contoh jika saat ini gotong royong telah berkurang, intoleransi semakin meraja Lela, masyarakat gampang tersinggung, timbulnya sikap melawan Tuhan, dan perilaku masyarakat semakin beringas.

“Untuk menyelesaikan permasalahan saat ini, kunci dari persatuan dan kesatuan ada 4, yaitu toleransi kerjasama akomodasi dan asimilasi, itu yang saat ini harus kita tegakkan,” kata Ali Anwar.

Selain itu juga, dia berpesan agar kedua belah pihak harus segera melakukan rekonsiliasi sehingga pencapaian menuju kesejahteraan masyarakat pasca Pilpres dapat segera direalisasikan.

“Perlu ada sikap mengorbankan harga dirinya demi persatuan bangsa dan negara, sebab NKRI harga mati,” tambahnya.

Sementara itu, KH Asep Jamaluddin menjelaskan bahwasanya masalah Pilpres saat ini benar-benar telah berdampak terhadap kehidupan sosial masyarakat, padahal momen kontestasi Pilpres hanya sebagai hajatan demokrasi per lima tahun.

“Perpecahan hanya akan meredusir kekuatan persatuan umat Islam yang kita pegang selama ini, Islam tidak akan kuat jika umatnya sendiri pecah. Umat harus bersatu jika ingin kuat. Mari kita selesaikan seluruh perpecahan yang makin marak sekarang ini, untuk yang menang bersyukur, untuk yang kalah istigfar, mungkin masih banyak kesalahan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *