Media Mainstream Diminta Jernihkan Berita Hoax dan Ujaran Kebencian

News388 Dilihat

JAKARTA – Media sosial telah menjadi tren terbaru di berbagai kalangan masyarakat. Media mainstream (media besar) di tanah air pun menghadapi tantangan berat dengan hadirnya berita dan informasi bernarasikan ujaran kebencian, SARA, dan hoax di media internet.

“Saat ini jagad media mainstream, media utama menghadapi tantangan yang amat besar dengan hadirnya berita ujaran kebencian, SARA dan hoax di media internet,” kata Aktivis Barisan Umat Islam Kaffah (Buikaf) Maulana, 15 Maret 2021.

Dia kembali mengingatkan tantangan media mainstream Indonesia dalam menghadapi wabah media sosial. Dan tidak dipungkiri masyarakat mengeluh adanya hoax dan ujaran kebencian yang bertebaran dan sulit dibendung media mainstream. 

”Kalau media mainstream itu masih bisa kita ajak berkomunikasi, masih bisa ajak bicara. Tapi kalau sudah masuk medsos, siapa yang bisa memagari?” ujarnya.

Padahal, ujar dia, banyak berita bohong, hoax dan ujaran kebencian yang menganggu akal sehat publik bertebaran di media sosial. Selain informasi bohong, media sosial juga dipenuhi berita yang isinya penuh dengan caci maki dan fitnah. Hal ini dinilai Jokowi sebagai bagian dari ancaman terhadap persatuan bangsa.

“Kita harus bersama-sama stop berita bernarasikan ujaran kebencian, bohong, hoax! Berita-berita fitnah harus kita hadapi,” tegasnya.

Untuk itu, Maulana berharap kepada insan pers, untuk turut menjernihkan informasi-informasi hoax dan ujaran kebencian yang bertebaran di media sosial.

“Media arus utama harus mampu meluruskan hal yang bengkok-bengkok, menjernihkan medsos kita sekarang,” tukasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *