Statemen Rocky Gerung Hina Presiden, Loyalis Ganjar : Jika Tak Diproses Hukum, Mending Kapolri & Menko Polhukam Mundur

News325 Dilihat

JAKARTA — Chusnul Chotimah, loyalis Ganjar Pranowo, merespons pernyataan Rocky Gerung yang menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) bajingan yang tolol dan pengecut. Ia meminta Menko Polhukam Mahfud MD dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mundur jika tak memproses Ahli Filsafat itu.

“Rocky Gerung menyebut Presiden @jokowi bajingan yang toloI dan bajingan pengecut. Kalau ini tidak ada tindakan, sebaiknya kalian semua mengundurkan diri aja pak @mohmahfudmd @ListyoSigitP @DivHumas_Polri,” kata Chusnul Chotimah dalam unggahannya di Twitter, Minggu, (30/7/2023).

Menurutnya, pernyataan yang disampaikan Pengamat Politik itu sudah kelewatan.

“Ini sudah kelewatan, Kepala Negara dikata-katain seperti ini masa kalian diam aja!!!,” tandas pegiat media sosial ini.

Sebelumnya, Rocky Gerung dalam acara Aliansi Aksi Sejuta Buruh Siap Lawan Omnibus Law menyindir keras Jokowi. Dia menyebut Jokowi berusaha keras untuk mempertahankan legacynya.

“Begitu Jokowi kehilangan kekuasaannya, dia jadi rakyat biasa. Nggak ada yang peduli nanti. Tetapi ambisi Jokowi adalah mempertahankan legacynya tuh,” kata Rocky.

Rocky juga menyentil Eks Gubernur DKI Jakarta itu yang nawarin IKN di China.

“Dia masih pergi ke China. Dia nawarin IKN. Dia masih mondar-mandir dari koalisi ke koalisi lain. Untuk mencari kejelasan nasibnya tuh. Dia memikirkan nasibnya sendiri. Dia nggak pikirin nasib kita,” ucapnya.

“Itu bajingan yang tolol. Kalau dia bajingan yang pinter. Dia mau terima berdebat dengan Jumhur Hidayat. Tapi bajingan yang tolol itu sekaligus bajingan yang pengecut. Ajaib, bajingan tapi pengecut. Jadi teman-teman kita harus lantangkan ini,” sambungnya memberikan semangat kepada Aliansi Aksi Sejuta Buruh Siap Lawan Omnibus Law.

“Saya percaya bahwa 10 Agustus nanti akan ada kemacetan di jalan tol. Bukan saya percaya, saya inginkan. Lebih baik macet di jalan tol daripada di jalan pikiran. Kita perlukan itu. Sejarah menunggu kita. Dan siapa yang dipanggil sejarah, dia mesti mewakafkan waktu dan tenaganya. Untuk memungkinkan sejarah itu menempuh jalurnya sendiri,” jelasnya.

Dosen Universitas Sam Ratulangi ini menegaskan, tidak ada perubahan tanpa gerakan.

“Saya bisa kasih kritik macam-macam. Tapi kekuasaan hanya bisa berubah kalau ditandingi oleh massa.Kekuasaan selalu takut kepada massa. Sejarahnya begitu. Sunnatullahnya begitu,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *