Kapolda Cup E-Sport 2024 dalam Kenangan Kombes Agustinus Christmas, Bangun Ekosistem Digital Sehat

Nasional25 Dilihat

Kupang – Jauh sebelum industri gim dan e-sport berkembang pesat seperti saat ini, Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) telah mengambil langkah strategis dengan menghadirkan Kapolda Cup E-Sport 2024. Turnamen yang diikuti lebih dari 210 tim dari seluruh kabupaten dan kota di NTT itu menjadi salah satu momentum penting dalam membangun ruang digital yang sehat bagi generasi muda.

Kombes Pol Agustinus Christmas mengenang penyelenggaraan turnamen tersebut sebagai salah satu pengalaman berharga ketika dirinya masih berpangkat AKBP dan dipercaya menjadi Wakil Ketua Panitia Kapolda Cup E-Sport 2024. Menurutnya, kompetisi itu bukan sekadar ajang mencari juara, melainkan bagian dari upaya Polri membina generasi muda agar memanfaatkan teknologi secara positif dan produktif.

Menurut Agustinus, antusiasme masyarakat, khususnya kalangan muda, saat itu jauh melampaui ekspektasi panitia. Dari target awal sebanyak 180 tim, jumlah pendaftar membengkak menjadi 210 tim yang berasal dari berbagai daerah di NTT. Bahkan, sebanyak 40 tim lainnya terpaksa masuk daftar tunggu karena keterbatasan slot pertandingan.

“Waktu itu kami hanya menyiapkan kuota untuk 180 tim, tetapi yang mendaftar mencapai 210 tim dan masih ada sekitar 40 tim lagi yang harus masuk waiting list. Ini menunjukkan bahwa potensi anak-anak muda NTT di dunia e-sport sangat besar,” kenang Agustinus.

Turnamen yang digelar dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-78 tersebut mempertandingkan tiga nomor populer, yakni Mobile Legends, Free Fire, dan PUBG Mobile, dengan total hadiah mencapai Rp30 juta.

Agustinus mengatakan, sejak awal panitia ingin menghadirkan sebuah kompetisi yang bukan hanya melahirkan juara, tetapi juga menjadi ruang pembinaan bagi komunitas gamer di NTT agar mampu berkembang ke arah yang lebih positif.

“Sejak awal kami ingin menunjukkan bahwa teknologi harus menjadi ruang untuk berkarya, berprestasi, dan berkolaborasi. Jangan sampai anak-anak muda hanya menjadi pengguna teknologi tanpa arah. Mereka harus menjadi generasi digital yang produktif,” ujarnya.

Saat masih menjabat sebagai AKBP dan Wakil Direktur Intelkam Polda NTT, Agustinus melihat perkembangan teknologi digital sebagai tantangan sekaligus peluang. Di satu sisi, dunia digital membuka ruang kreativitas yang sangat luas, namun di sisi lain ancaman kejahatan siber juga terus meningkat sehingga diperlukan pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda.

“Seperti kita ketahui, perkembangan kejahatan siber semakin kompleks. Karena itu kami memilih melakukan pembinaan melalui kegiatan yang dekat dengan dunia anak muda. E-sport menjadi salah satu media yang efektif untuk membangun budaya digital yang sehat,” katanya.

Ia mengungkapkan, salah satu pertimbangan utama penyelenggaraan turnamen tersebut adalah besarnya komunitas gamer di NTT. Berdasarkan data Free Fire Indonesia saat itu, terdapat sekitar 43 ribu pemain Free Fire di NTT yang aktif berinteraksi melalui ruang digital.

“Komunitas virtual ini sangat besar. Mereka berinteraksi setiap hari melalui internet. Yang ingin kami bangun adalah bagaimana ruang digital tersebut menjadi ruang yang bersih, aman, produktif, sekaligus mampu melahirkan prestasi,” ujarnya.

Menurut Agustinus, pembinaan terhadap generasi digital tidak cukup hanya melalui sosialisasi atau edukasi di ruang kelas. Anak muda perlu diberikan ruang aktualisasi yang sesuai dengan minat mereka sehingga nilai-nilai sportivitas, disiplin, kerja sama tim, dan tanggung jawab dapat tumbuh secara alami.

Pengalaman menyelenggarakan Kapolda Cup E-Sport menjadi salah satu perjalanan yang hingga kini masih dikenangnya. Baginya, kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa Polri dapat hadir lebih dekat dengan masyarakat melalui pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman.

Filosofi tersebut juga tampak dalam berbagai kiprahnya di luar dunia e-sport. Saat masih bertugas di Polda NTT, Agustinus aktif mengembangkan ekosistem kopi lokal, mengajar mahasiswa, mendampingi petani, hingga mengajak anak-anak muda berani berwirausaha. Atas konsistensinya itu, ia kemudian dikenal luas dengan julukan “Jenderal Kopi”.

Menurutnya, baik melalui dunia kopi maupun e-sport, tujuan yang ingin dicapai tetap sama, yakni mempersiapkan generasi muda NTT agar memiliki kemampuan bersaing, mampu memanfaatkan peluang, dan berkontribusi bagi pembangunan daerah.

“Saya selalu percaya bahwa tugas kita bukan hanya menjaga keamanan hari ini, tetapi juga menyiapkan generasi masa depan. Ketika anak-anak muda diberi ruang untuk berkembang sesuai potensinya, mereka akan menjadi kekuatan besar bagi NTT,” tuturnya.

Meski Kapolda Cup E-Sport telah berlangsung pada 2024, Agustinus menilai semangat yang dibangun melalui kegiatan tersebut masih sangat relevan hingga saat ini. Ia berharap semakin banyak anak muda yang memanfaatkan teknologi sebagai sarana berkarya, berinovasi, dan mengukir prestasi.

“Harapan saya sederhana, semoga semakin banyak generasi muda NTT yang memanfaatkan teknologi untuk hal-hal positif, membangun prestasi, dan membawa nama baik daerah. Itulah investasi terbaik untuk masa depan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *